ini caraku memandangnya

Saya tak bisa menyebutkan nama sebenarnya.. Katakanlah namanya Yuriko, kami memanggilnya Yuri.. Gadis itu memiliki senyum yang manis dan bersahabat.. Penampilannya sederhana, tidak banyak bicara, dan sapaannya pun sangat lembut. Bisa dikatakan dia adalah satu dari sekian “mawar” di angkatanku saat duduk di bangku kuliah dulu..

Konon kabarnya Yuri berasal dari kota kembang, Bandung, yang sangat identik dengan gadis berparas manis dengan kulit yang super mulus.. Yuri ke Makassar karena lulus tes SPMB di Universitas Hasanuddin Makassar.. Kebetulan juga Yuri memiliki keluarga di Makassar dimana adalah salah seorang senior kami yang juga berkuliah di fakultas yang sama dengan kami ..

Dia menjadi pusat perhatian beberapa senior cowok di kampusku, bahkan salah satu dari mereka yang telah menjalin hubungan dengan seorang gadis di fakultas kedokteran, rela melepaskan sang kekasih demi Yuriko… Well.. Saya sangat maklum, meski tidak cerdas dan tidak menonjol dalam bidang akademik, tapi Yuri memiliki sejumlah kelebihan lain yang mampu menutupi kekurangannya itu..

Salah satunya yaitu keputusannya menutup auratnya dengan menggunakan jilbab.. Dia terlihat semakin ayu dibalik jilbabnya yang teduh.. Lantas saya berpikir, maka semua pria pun akan tertarik untuk memiliki si Yuri yang merupakan gambaran calon istri yang soleha.. Meski terlihat pendiam, tapi Yuri pun memiliki sahabat-sahabat dekat.. Mereka terlihat kompak, yahh layaknya saya dan sahabat-sahabatku juga..

Lalu.. Setelah melewati beberapa semester, saya mendengar kabar bahwa Yuriko lolos dalam tes pramugari haji untuk salah satu maskapai penerbangan.. Tidak hanya sahabat dekatnya, kami teman-teman se-angkatannya pun menyambut gembira kabar itu.. Banyak yang mengucapkan selamat kepada Yuri.. Secara yahh.. gaji pramugari cukup besar, apalagi di usia seperti kami yang saat itu masih sibuk berkutat dengan jadwal kuliah, transkrip nilai, dan final test..

Akibat kegiatan dan aktivitasnya sebagai pramugari mengakibatkan frekwensinya ke kampus semakin menurun.. Dia mulai sering bolos, dan akhirnya kami mendengar kabar dia mengambil cuti satu atau dua semester *Ve sudah lupa, satu atau dua semester yah ?* Sahabat-sahabatnya pun sudah jarang berkomunikasi dengannya.. Mereka bahkan terlibat konflik yang akhirnya membuat Yuri terkucilkan dari komunitasnya..

Masa cutinya belum selesai, namun ada kabar beredar bahwa Yuri akhirnya memutuskan untuk berhenti kuliah.. Mungkin Yuri sudah kehilangan motivator ke kempus, dia kehilangan sahabatnya yang senantiasa menjadi pelipur laranya.. Tapi saya berani bertaruh bahwa itu bukan kesalahn Yuri sepenuhnya, dan bukan juga kesalahan sahabat-sahabatnya.. Ini hanya masalah prinsip.. Bisa juga karena sudah tergiur dengan gaji yang banyak dan gaya hidup yang menyenangkan, sehingga dia tidak sanggup meninggalkan pekerjaan itu, meski itu adalah konsekwensi untuk dapat melanjutkan kuliah..

Yuri pernah sekali dua kali ke kampus ketika kami lagi sibuk-sibuknya menyusun laporan praktek lapang dan asistensi.. Saya sempat bertegur sapa dengannya, dan tak lupa menyunggingkan senyum sebagai tanda bahwa saya masih selalu menjadi temannya, agar dia tidak pernah merasa minder.. Merasa minder ?? Itu karena kabar miring yang santer terdengar di beberapa angkatan, apalagi angkatanku di fakultas kami... Berbagai gosip yang menceritakan keburukan dirinya menyebar luas, hingga bisa dikatakan namanya pun seakan "terhina", bagi sejumlah penghuni kampus yang merasa diri mereka bersih dari dosa..

Ada yang mengatakan bahwa gaya hidupnya sekarang sudah glamour, bergaul dengan sejumlah lelaki tidak jelas. Bahkan kain jilbab yang dulu terpasang rapi menutup auratnya dan hanya memperlihatkan wajah teduhnya, kini hilang entah kemana.. Namun saya tidak pernah melihatnya sebagai sesuatu yang buruk, karena tiap kali kami bertemu, yang ada hanya senyum dan sapaan persahabatan..

Hmmm... Saya tidak mengatakan kabar itu benar ataupun salah.. Namun andaikan semua gosip tentang keburukannya itu benar, Yuri pasti punya alasan.. Dan apapun alasan itu, saya yakin Yuri pun tau konsekwensinya.. Tugasku bukan untuk mengadili seorang Yuri… Saya pun hanya titipan di dunia ini dan tugasku menjaga orang lain yang juga adalah titipan Allah.. Agar kiranya kita saling menyadari bahwa kita tidak sendiri..

Saya lalu teringat beberapa cerita teman tentang diriku.. Cerita yang seolah mencemooh dan menghujatku…. Saat itu juga emosiku nyaris menjelma menjadi dendam.. Fiuuhhh.. Untungnya semua itu redam sembari istigfar kulafadzkan.. Dan saya sadar, saya tidak punya hak mengadili mereka.. Lebih baik kusyukuri diriku yang masih dikelilingi oleh cinta dan kasih sayang mereka yang benar-benar tau siapa diriku dan menerimaku apa adanya…

Beberapa minggu lalu, saat tengah makan siang di salah satu mall, dari jauh saya melihat Yuri yang berjalan dengan teman perempuannya.. Dia tetap manis, dengan penampilan yang emmm... mungkin agak sedikit berbeda, rambut pendek model bob, kemeja coklat tanpa lengan dipadukan dengan celana jeans biru.. Ingin rasanya teriak menyapanya, namun kami dipisahkan kaca yang tebal, dia terlihat asyik ngobrol sambil berlalu..

Sayapun tersenyum, dan kudoakan yang terbaik bagimu, teman.. Semoga dimanapun kita tersesat, akan selalu ada jalan untuk kembali..

31 July 2009
23:45 wita

di balik bangunan tua

Dua hari ini cukup berat buatku… Semua yang di kepalaku rasanya ingin kukeluarkan dengan satu teriakan di alam bebas, namun seperti biasa saya hanya mampu mengeluarkannya lewat isakan tangis yang semakin lama semakin mirip rengekan gadis kecil yang kehilangan boneka beruang putihnya..

Terlalu privasi untuk kubagi kepada kalian… Maaf.. Pagi ini sisa kesedihanku itu seperti diuji dengan peristiwa yang nyaris sama.. Ufff… Seandainya hujan yang menyapaku hari ini bisa menjadi temanku berbagi, rasanya ingin kuadukan semua keluh ini.. Ingin kubiarkan air mataku mengalir sederas nya yang turun membasahi kotaku pagi ini…

Saya hanya mampu menatap rintikan hujan dari balik jendela angkot dan menikmati hawanya lewat tiupan angin, berharap dapat menenangkan pikiranku yang kalut.. Tangisan itu sedikit lagi akan tumpah namun berusaha kutahan hingga tenggorokan ini tercekat, perih…

Bagi kalian yang tau kisah beratku dua hari terakhir ini, mungkin akan tergelak membaca tulisanku.. Mungkin kalian menganggap kisah ini hanya isapan jempol yang kupaparkan demi menarik perhatian.. Ataukah.. Hanya peristiwa ringan yang memang tidak bisa dihadapi gadis cengeng sepertiku…

Terserah..!! Saya tidak pernah peduli dengan apa yang kalian pikirkan tentangku.. Saya hanya peduli pada mereka yang ingin membagi bahunya untukku bersandar.. mereka yang ingin menyempatkan waktu sejenak untuk mendengarkanku dan tidak tertawa setelahnya.. Asas manfaat?? Tentu tidak! Kalian bisa belajar sesuatu dari apa yang terjadi padaku…

Sesampaiku di teras kantor, perdebatan dengan adikku, kembali terjadi lewat telepon selulerku.. Uggghhhh.. seandainya kuikuti emosiku yang kian menyulut, rasanya ingin kubanting benda itu agar percakapan terhenti.. Namun saya hanya berani mengakhiri pembicaraan secara sepihak.. Saya tak sanggup! Hehehe.. *mungkin kamu akan menuduhku mendramatisir keadaan lewat tulisan ini*

Saya mencoba mencari bala bantuan lewat sahabatku dan dia.. Tapi entahlah.. Sepertinya memang kalian susah merasakan apa yang saya rasakan.. Wajar koq… Tidak ada yang bisa mengerti orang yang berpikir dengan emosi meluap-luap sepertiku.. Setelah kuhabiskan beberapa menit di teras dengan mata sembab, saya putuskan mencari tempat aman di kamar kantor..

Kududuk di kursi kecil yang terletak di depan meja riasku.. Sambil melepaskan desahan panjang, saya menatap lekat cermin, dan tampak wajah lusuh dan tidak bersemangat itu… Dari sampingku, kurasakan udara dingin yang terus meniup wajahku seolah mencoba mencuri perhatianku, dan saya saya pun menoleh… Ternyata jendela ruangan ini terbuka lebar..

Seperti biasa, bangunan tua yang “telanjang” itu menarik perhatianku… Bentuknya memang nyata sebuah bangunan bertingkat dua, susunan batu bata rapi tanpa dibalut semen dan cat tembok, terlihat sangat jelas.. Canopy berbentuk setengah lingkaran yang mungkin dulunya dicat putih mulus, kini tertutup dengan jamur serta debu yang menempel sehingga terlihat usang dan kotor, begitupun pilar-pilarnya..

Sejumlah dedaunan kering kecoklatan seolah “menemani” nya sambil bergelantungan di sekitarnya… Sejenak saya berpikir.. Apakah rencana pemilik bangunan ini? Seandainya bangunan itu direnovasi, pasti akan terlihat megah, apik, dan indah, karena terhitung bangunan yang cukup besar… Tapi sama sekali tak ada jawaban yang kutemukan..

Bangunan itu tidak menarik sama sekali… Apalagi disekitarnya hanya barisan pohon kelapa dan beberapa jenis pohon lain yang tidak kuketahui pasti jenisnya.. Daun-daun pohon itu lebat berwarna hijau dan kekuningan.. Sekali lagi tidak menarik, dan begitulah pemandangan yang selalu kudapati dibalik jendela kamar ini, hampir setiap hari ketika akan menunaikan ibadahku serta melakukan rutinitas merias wajah..

Berkali-kali saya yakinkan diriku bahwa pemandangan itu tidak sedap.. Tidak artistic dan tidak ada nilai estetika sedikitpun.. *ceilehhh bahasanya, sudah kayak pakar seni dan desain interior-eksterior* Namun berkali-kali pula saya mengagumi pemandangan itu dalam hati kecilku, dan hingga saat ini nyaris menyita seluruh rasa kagumku…

Apalagi siang ini.. Dimana dinginnya angin menusuk hingga ke kulit tubuhku, dan mengalahkan terik matahari yang sering menemani rintikan hujan.. Pemandangan itu semakin indah.. Akhhhh.. Seketika semua rasa benci ini terabaikan, rasa sedih ini tak kuindahkan lagi.. Kucoba sampaikan pandangan mataku ini ke orang-orang yang kusayangi, berharap mereka tau, ada sesuatu yang indah dibalik semua keburukan itu..

Yappp.. Sesuatu yang indah dibalik keburukan itu.. Dannn saya berpikir.. Mungkin disitulah Pemilik Kehidupan ini menyimpan nikmatnya harta yang tak dapat dibeli dengan uang dari jenis mata uang manapun.. Keindahan yang dia simpan rapi, yang kerap manusia cari dengan menggali alam ini, dengan menggunakan teknologi canggih demi menciptakannya, dengan mengubek-ubek semua toko dan pusat perbelanjaan..

Ini hanya satu dari sekian yang tidak pernah kusadari… Bahwa Dia menegurku dengan cara yang benar-benar indah hari ini, meski risau ini ada, namun terlalu naif apabila saya tidak mengakui keindahan di depan mataku ini.. Terlalu naif karena selalu bercerita tentang kesedihan, padahal Dia tidak pernah jauh dariku.. Meski dua belas warna dan tujuh purnama kulewati… Meski ada yang telah berubah…

14 Juli 2009
23:26 wita


cerita tentang Cinta

Kriiiiiinnnngggggggggg……!!!!! Seperti biasa jam weker yang “bawel” nya minta ampun itu selalu membangunkanku tepat pukul lima pagi… Kuseret langkahku menuju kamar mandi sambil mengucek-ucek mata, hummm.. Kebiasaan yang selalu ditegurkan mantan pacarku dulu.. Katanya itu bisa membuat mataku merah dan iritasi, dan teguran itu tidak pernah kuindahkan..

Setelah menggosok gigi, aku pun berwudhu dan kulanjutkan dengan shalat subuh.. Usai shalat, kusempatkan membaca 2 - 3 halaman Al- Qur'an-ku.. Meski aku tak mengetahui secara pasti arti tulisan itu, tapi ada rasa sejuk berdesir tiap kali aku melafadzkan kalimat-kalimat yang tertera.. Nikmat..

Mengaji singkatku pun selesai.. Aku punya kebiasaan mengecek kotak pesan di ponselku, berharap pesan singkat berisi kalimat-kalimat penyejuk iman yang biasanya dikirimkan Deni, pria yang telah berpacaran denganku salama setahun… Namun kebiasaannya itu sudah hilang sejak 3 bulan lalu…

Aku hanya bisa menelan ludah dan menahan keresahan itu.. Pernah kutanyakan padanya mengenai hal tersebut, saat kami ngobrol lewat telpon..

"Say... Kamu koq udah gak pernah kirimin aku sms di waktu subuh lagi?" tanyaku

"Yahhh.. Aku kan capek.. Bangun untuk shalat subuh aja udah jarang.. Kamu tau kan, semenjak aku naik jabatan di kantor, tanggung jawabku semakin besar.. Sehari 24 jam aja, rasanya gak cukup, Cin" jawabnya..

Yahhhh... Dan aku hanya tersenyum mengangguk... Meskipun kecewa dan sedih.. Terkadang bahkan aku sewot, kalau tiba-tiba dia membatalkan acara malam mingguan kami karena ada meeting dengan klien-nya..

"Lhooo? Tapi kan kita udah pesan tempat.. Kamu kan udah janji, say... Aku udah siap-siap niiiihhh! Gimana sihhh...!" tanggapku ketika dia membatalkan acara dinner kami, hanya karena kliennya yang katanya udah jauh-jauh datang dari Singapura... Perasaan gak jauh-jauh amat deh, masih masuk Asia Tenggara juga kan... Yahhh kecuali kalo jalan kaki.. Ughhhh.. Sebel!!!

"Duhhh.. Sayyy.. Kamu kan tau kerjaan aku kayak gimana... Harus stand by 24 jam..." jawabnya

"Tapi kan kamu udah janji sama aku!! Aku harusnya lebih penting!!"

"Cinta!.. Aku perhatiin, kamu sudah mulai sewot dengan kerjaan aku! Aku gak suka!!"

Obrolan lewat telepon saat itu, membuatku tidak enak hati.. Tidak enak hati karena sekali lagi aku harus mengalah dari pekerjaannya itu.. Aku pikir itu hanya terjadi di sinetron-sinetron saja, namun akhirnya kualami sendiri... Terkadang kupendam rasa kecewa itu berhari-hari, dan akhirnya kumuntahkan lewat tangisan panjang di malam pengantar tidurku.. Begitulah aku, satu yang paling tidak disukainya, karena aku sangat sensitif, "cengeng", kata dia...

Tapi berbicara soal kesibukannya yang bertumpuk, aku pada akhirnya harus selalu mengerti bahwa itu semua dia lakukan demi masa depan kami berdua...

Jam dinding di kamarku sudah menunjukkan pukul 07.00, aku lalu bergegas mandi sebelum mama mengomel dengan nada setinggi 7 oktaf, karena anak gadisnya yang sekiranya mengantarnya pagi ini, masih malas-malasan di kasur empuknya.. Hari ini mama pengen diantar ke beberapa tempat, mengingat persiapan pernikahan kakak ku, Hani, yang tinggal menghitung hari..

Usai mandi, aku menuju ruang makan.. Hummm.. Ruangan favoritku.. Hihihi.. Yahh tentulah.. Hidup sehat itu perlu, sarapan adalah kunci aktivitas kita di pagi hari.. Hallahhh.. Padahal aku memang lapar banget, karena semalam gak sempat menyantap makan malamku...

Kemudian, kupanaskan mesin mobil sambil menunggu mama yang sedang menggunakan jilbabnya yang berwarna pink. Dia sangat cantik dengan setelan baju yang dia kenakan.. Baju gamis berwarna hijau daun *wellehh sudah kayak nama band, teman duet Luna Maya*, dengan bordiran pink. Penampilan mama tidak pernah mengecewakan..
Kami menuju rumah tanteku, yang ditempuh dalam waktu 30 menit, sehingga aku dan mama mulai mengobrol beberapa hal..

"Deni mana, Ta?" yapp.. Namaku Cinta, Deni memanggilku dengan sebutan "Cin", kata dia sih kependekan dari Cina, karena wajahku yang oriental. Ihhh usil banget, meskipun tidak bisa kupungkiri darah Tiong Hoa papa yang sangat kuat dalam diriku. Sementara mama dan keluarga malah asyik memanggilku dengan sebutan "Ta" atau "Tita"

"Biassa mam.. Kerjaaa...." jawabku sambil konsentrasi nyetir

"Sabtu kerja juga? Dia koq udah jarang ke rumah sih? Mama perhatiin tiap malam minggu dia udah jarang apelin kamu"

"Mamaaku sayang.. Deni tuh sibuk banget semenjak naik jabatan di kantornya, bukan dia gak mau apelin Tita, tapi klien-kliennya lagi rame berdatangan"

"Humm.. Iya.. iya.. Tapi kamu harus hati-hatil lho, tetap waspada, nak.. Tau kan.. Pria hidung belang udah mulai berkeliaran dimana-mana.. Takutnya si Deni terjangkit"

"Hihihihi.. Mama ini.. Emang penyakit demam berdarah, sampe pake kata " terjangkit" segala... Insya Allah nggak, mam.. Dia rajin sms dan telpon, koq" candaku, meskipun gak sepenuhnya benar..

Deni pun sudah jarang menelponku di malam hari, hanya itu waktu buat kita berkomunikasi.. Smsku juga lebih banyak dicuekin, dan tentunya masih dengan alasan yang itu-itu ajah.. Lagi meeting-lah, lagi ribet-lah.. ngobrol dengan klien-lah.. dan.. bla.. bla.. bla...

Suasana di rumah tante sangat rame, beberapa sepupuku dari luar kota pun berdatangan.. Yahhh gitu deh.. Asal ada perhelatan aja, pasti udah kayak pasar sentral deh..

"Titaaaa chayankkkk" sapa Uni salah satu sepupuku yang baru datang dari Makassar. Dia ikut suaminya yang dipindah tugaskan ke kota Daeng itu, pahal dia Bandung abisss.. Anaknya emang rame.. Satu orang kayak dia udah bisa menyemarakkan sebuah pesta.. Gak perlu pake badut dan master of ceremony, dia bisa rangkap koq.. Hihihihi.. Saat ini dia sedang hamil 4 bulan..

"Hay, Ni...! Ya ampuunnn.. Kapan datang? Gileee.. Hamil lagi, Bu?!"

"Halllahh.. Namanya juga udah bini orang.. Wajar kali kalo hamil.. Aku baru tiba kemarin.. Kamu sih sibuk kerja, jadi udah gak nyadar kalo sepupumu yang cute dan imut ini udah tiba dengan selamat.. By the way, on the way, busway... Tambah cantik loe..!" cerocosnya dengan penampilan yang berantakan habis, oh yah.. narsisnya juga mulai se-akut diriku.. Hihihihi..

"Yahhh.. Namanya juga kerja buat sepiring nasi, harus giat dong, Ni.. Ahhh.. Masa sih gue tambah cantik.. Tapi iya juga.. Ibu-ibu yang hobi gosip di kompleks rumah, malah bilang gini, si Cinta anak ibu Sherly itu, cantik banged yah.. Udah ngalahin si Manohara, istri pangeran Kelantan itu lhouuwww“

"Ihhh.. Najis loe ah...! Manohara..? Kamu tuh bukan Manohara, tapi Manokwari! Udah.. Jangan banyak bacot.. Loe anterin aku balik ke rumah.. Semalam aku nginap.. Mau pulang mandi dulu, ntar balik ke sini lagi“ jawabnya sambil cekikikan..

"Hahahahaha... Sialan loe!"

Dari dulu kami sering becanda... Pokoknya kalo udah ketemu sma Uni, rasanya lagi rumpi sama burung Beo yang bawel abis.. Hehehehe..

Setelah pamit, kami pun berangkat.. Yahhh hitung-hitung melepas kangen, kami mulai bercerita banyak hal di atas mobil Honda Jazz hitam keakunganku.. Mulai dari aktivitasnya sebagai ibu rumah tangga dengan putra-putri kembarnya, Josh dan Jenny, sampai pada cerita antara dia dan suami yang kadang harmonis, tapi terkadang juga diwarnai pertengkaran kecil..

Lantunan gitar Sandy – Be my lady, tiba-tiba memecah percakapan kami.. Upsss.. Ponselku berdering.. Humm.. Deni...

"Assalamualaikum.. Yah say..."

"Walaikumsalam.. Lagi dimana, Cin?"

"Gi di jalan.. Antar sepupuku, Uni, balik ke rumahnya.. Tadi sempat anterin mama ke rumah tante, Ros"

"Uni? Uni yang mana yah?"

"Itu lho.. Sepupuku yang baru datang dari Makassar.. Perasaan aku sempat cerita ma kamu dua hari yang lalu"

"Hmmm.. Aku koq lupa yah... Ya sudahlah, salam ajah.. Oh iya say... Maaf yah.. Malam ini lagi-lagi kita gak bisa jalan bareng... Soalnya ada wedding kemenakannya bosku.. Aku harus datanglah.. Gak enak..“

"Yahhh.. Kamu suka gitu deyh sekarang.. Sebel ahh.. Mmmm.. Atau gimana kalo aku temenin ke wedding?"

"Iyahh.. Maaf... Mau gimana lagi.. Gak usah, say.. Kamu istirahat ajah di rumah.. Lagian pernikahan Hani udah gak lama lagi kan.. Mending kamu bantuin mama dan keluarga untuk persiapannya.. Okey?"

"Huffff... Ya sudahlah.. Kamu lagi dimana?"

"On the way ke kantor, say... Udah dulu yah.. Lagi nyetir nih.. Ribet.. I love you, sweety.. Don’t forget have lunch“

Pembicaraan pun kami akhiri, dan wajah beteku semakin gak bisa kusembunyikan lagi.. Rasanya hubungan ini mulai hambar... Sudah tidak ada lagi masa-masa dimana kami bisa tertawa lepas.. Ngobrol dari hati ke hati.. Bercanda dan saling mengejek... Apakah aku sudah harus berpikir realistis dan mulai skeptis dengan hubunganku ini.. Mengingat di luar sana ada banyak pria yang bersedia menjagaku, lebih dari yang Deni lakukan.. Bahkan ingin meminangku...

Ahhh.. Tidak..! Biar bagaimana, Deni adalah yang terbaik.. Ini hanya masalah tuntutan kerjaan dia saja.. Bener juga sih.. Gak mungkinlah dia tidak menghadiri wedding itu.. Apa kata bosnya nanti, bisa-bisa dia dicap sebagai karyawan yang tidak loyal... Lagian semua ini kan demi masa depan kami.. Aku akung koq sama dia, dan insya Allah dia pun begitu padaku..

"Pacar kamu, Ta?" tanya Uni, membuyarkan lamunanku..

"Hahh.. Iya nih.." jawabku sambil tersenyum

"Cieeee... Udah berapa lama, Ta?"
"Baru juga setahun, Bu.. Emang kamu sama ka Fadel.. pacaran udah kayak umur pohon mangga di belakang rumah.. Lima tahun, bo’"

"Ehhh.. Nyet..! Itu namanya awet... Toh akhirnya married juga kan.. Ada Josh dan Jenny juga kan.. And we still loving each other, honeyy"

"Iye.. iye.. Tau... Kamu beruntung banget yah"

"Alhamdulillah iya sih.. Emang dia kapan ngelamar kamu rencananya?"

"Not now maybe.. Kami masih sibuk dengan kerjaan masing-masing.. Pengen nabung dulu kata dia... Aku juga gak pengen desak..."

"Ehhhh... Kamu harus minta kepastiannya.. Jangan-jangan dia gak serius.. Status sih ada, tapi masalah akung dan cinta, siapa yang bisa nebak.. Kata tengku Fachry sama Manohara, you’re just my property, nah lho.."

Yah... Manohara lagi.. Manohara lagi.. Tapi emang sih.. Model darah Bugis-Perancis itu, kini lagi rame dibicarakan khalayak.. Sampai Presiden SBY dan Dubes Indonesia di Malaysia juga angkat bicara terhadap kasus model yang saat ini kontroversial itu... Hmmm.. Bisa tambah mahal nih "harga" nya...

"Yeee... Kamu tuh.. Bukannya doa yang baik, eh.. malah doain sepupunya yang cantik dan keren ini, yang nggak-nggak.." sanggahku

"Ihhh GR loe ya.. Baru juga dibilang tambah cantik dikitttt... Hihihihi.. Bukan begitu, say.. Aku tuh sebagai kaka, care sama kamu... Aku gak mau kamu jadi korban laki-laki hidung belang yang sudah berseliweran dimana-mana.. Kamu layak dapat yang terbaik, Ta"

"Mending GR daripada minder... Iyahhh.. Iyahh.. Insya Allah Deni bukan satu di antara mereka.. Hidungnya gak belang koq.. Mancung malah.... Hihihi.. Kamu tuh udah kayak mama aja deh.. Emang kalo udah jadi ibu, ngomongnya kayak gitu yah.. Banyakan nasehat dibanding candaan.. Jiwa mudanya udah meredup.."

"Hehhhh.. Loe tu yahhh.. Gue kasih tau malah, ngeledek.. Kualat loe...! Gue jitak juga loe, kayak Josh kalo lagi bandel" "Ampunnn, Bu!!!"

Tawa kami tiba-tiba meledak.. Yapp.. Sudah lama juga aku gak bercanda ria seperti ini.. Mau gimana lagi.. Seminggu lima hari kerja.. Sabtu, paling antar mama belanja. Minggu, nyuci plus seterika bajuku yang udah bertumpuk, malamnya harus istirahat. Sebenarnya itu gak nyita waktu banget, tapi teman buat ketawa bareng itu udah gak ada.. Sahabat-sahabatku banyakan di luar kota... Deni??? I think he's not the best solution anymore...

Setelah nungguin Uni mandi, yang udah ngabisin waktu sejammm! Gak tau deh kenapa ada manusia mandi selama itu, mungkin sekalian nyuci kamar mandi kali.. Akhirnya dia pun sudah tampil cantik, dengan dress yang emang khusus buat ibu hamil, warna biru muda, plus bordiran membentuk bunga-bunga di beberapa sisi dress itu.. Cantik..

Kami lalu meluncur ke Blok M Plaza.. Si uni yang bawel, pengen ditemani nyari dress buat acara kawinan Hani. Dia kayaknya mulai dilanda krisis PD dengan perutnya yang semakin buncit...

"Masalahnya nih, Ta.. Aku hamil di saat ceremony besar bakal digelar.. Yahhh aku gak bisa tampil langsing singset dengan kebaya dong.." jawab Uni, ketika aku memprotes dia yang gelisah milah-milih model dress di majalah Kartini, edisi trend fashion bagi ibu hamil.

"Astagfirullah! Nauzubillah Min Zalik, Ni..! Kamu tuh... Yang namanya hamil itu harus disyukuri.. Halal ini.. juga..“

"Iye Bu Ustadzah.. Amin Ya Rabbal Alamin.. Anjrit..! Loe udah kayak teh Nini istri As Gym ajah... Kalo dia mah cocok.. Lahhh.. Kamu gak cocok atuh, neng.. Mantan preman kampus gitu lho!! Si Deni emang anak pesantren yah kemarin?"

"Hahahahaha... Ngeledek loe yeee... Makanya kalo udah shalat subuh, jangan tidur lagi, tuhhhh nonton tuh kuliah subuh.. Kamu sih... Nontonnya gossiiiiiiip ajah.. Makanya Ngomongnya Manohara mulu"

"Ehhh, neng geulis... Aku ini punya suami.. Udah shalat subuh, harus nyediain segala perlengkapan suami dong... Kalo aku tidur lagi, lama-lama aku dipecat jadi istri sama Fadelku.. Lagian... Bagus kali aku tongkrongin Manohara.. Biar calon putriku, insya Allah secantik dia.. Tapi jangan sampe dehh bernasib apes kayak dia" kata Uni sambil mengusap-usap perutnya. Dia memang sangat menginginkan seorang putri lagi.. Kata dia, biar shopping bareng jadi rame..

"Iye.. iye.. Amin deh...." jawabku sambil tersenyum..

Pikiranku pun menerawang.. Mulai menyusun masa depanku sendiri.. Aku dan Deni, insya Allah akan memiliki keluarga yang bahagia nantinya.. Punya anak yang lucu-lucu.. Kehidupan rumah tangga yang harmonis.. Ahhh.. Betapa menyenangkannya seandainya itu tercapai.. Maka segala keresahanku pun, insya Allah tertepis..

Setelah memarkir mobil, kami lalu berjalan menyusuri blok M Plaza yang ampunn deh, bikin pegel kaki.. Bagi mereka yang sering menghabiskan waktu di tempat-tempat seperti itu, mungkin udah terbiasa dan kebal.. Tapi bagi aku yang lebih banyak di ruang kerjaku dan nongkrong di depan laptopku, otomatis ngeluh juga sih...

Akhirnya kami singgah di sebuah toko yang memang khusus menjual pakaian buat ibu hamil..

"Aku pas dulu yah, Ta" kata Uni yang memilih dress sutra warna ungu tua metalic, dengan kerah "V", dihiasi payet silver-purple.. Dan ditambahkan tali bahan transparan berwarna ungu yang lebih muda sedikit, di bagian bawah dada, yang nantinya akan simpul berbentuk pita.. Modelnya simpel, tapi elegant.. Cocok dikenakan malam hari..

"Yupp.. Aku nunggu sini ajah" jawabku sambil melihat-lihat koleksi dress lain yang kiranya akan kubeli saat aku hamil anak pertamaku nanti... Amin.. Tapi kapan yahhh... Hehehehehe...

Setelah pas dengan ukurannya, Uni menuju ke kasir untuk membayar... Aku pun berdiri tepat disampingnya.. Kami terpaksa mengantri karena ada seorang ibu hamil, dan seorang gadis seumuranku yang sedang membayar.

Lalu...! Tiba-tiba saja mataku terbelalak ketika melihat isi dompet gadis yang berdiri di depanku.. Bukan karena merk Louis Vuitton dompet kulit mengkilap warna merah maroon itu, atau karena sekitar lima kartu kredit yang berjejer rapi... Tapi karena melihat foto mesra gadis itu bersama seorang pria yang familiar sekali wajahnya, terpasang rapi di dompetnya.. Pria itu adalah kekasihku selama setahun teakhir ini, Deni..

Tubuhku gemetar seketika.. Tidak.. Ta...! Pikir positif... Mungkin gadis itu keluarganya Deni yang datang dari jauh.. Ataukah adik Deni yang paling bungsu yang tidak pernah kau ketahui keberadaannya... Ahhh.. Percuma.. Jantungku berdegup dua kali lebih cepat, seakan bakal "loncat" keluar.. Akhirnya aku tidak bisa menahan lagi rasa penasaranku,

"Maaf, mba.. Itu fotonya mba, dengan siapa yah?" tanyaku dengan agak gugup dan tanpa basa-basi.. Uni hanya melongo kaget melihatku yang menegur orang tak dikenal.

"Ohh yang ini, mba.. Dia tunangan aku... Namanya Daniel.." jawab si gadis dengan senyum sumringah, seolah menggambarkan kebahagiaannya yang sebentar lagi akan dipersunting sebagai istri...

Ya Tuhannn...! Daniel Deni Syahputra.. Begitulah nama lengkap pria yang terkadang kuprotes karena menurutku namanya itu boros banget.. Terdiri dari dua yang hampir sama bunyinya.. Pria yang selalu kudambakan sebagai suamiku nanti... Huffff...

Seandainya mati itu bisa berkali-kali.. Maka aku lebih milih mati saat itu, kemudian hidup lagi dengan nafas baru dan kapasitas memory yang bersih dari kenangan...
Terasa separuh rohku terangkat.. Kepalaku pening... Air mata ini sudah sampai di pelupuk mata, dan sedikit lagi akan tumpah.. Kakiku lemas.. Uni hanya terpaku melihatku... Tiba-tiba saja pandanganku kabur..

"Ta..!! Tita...!! Ya ampun Cinta!!!.. Kamu kenapa, say!" teriak Uni yang masih sempat kudengar..

... dan setelah itu.. aku tak ingat apapun... berharap takkan pernah mengingat apapun, cairan hangat itupun menetes saat mataku tertutup pelan...