kumpul-kumpul lagi

Kupikir acara jalan-jalan kali ini akan sama seperti biasa.. Eummm.. Sebenarnya sih sudah tidak biasa lagi apabila saya menghabiskan waktu jalan-jalan bersama adik-adikku yang cantik dan centil, ataupun bersama lima orang temanku yang sangat lucu dan sangat pengertian kepadaku, bagiku itu luar biasa. Waktu yang kuluangkan untuk bekerja, sudah hampir mengubur kebiasaanku melewati zaman bersama mereka... Yap... Hanya mereka... Soalnya saya jarang spending time sama orang lain, bagiku... Dengan mereka saya sudah merasa cukup.. Tapi yang hari ini, beda... Sudah lama kami tidak sekonyol ini, oh ya... they are Ayu, Immi, Rolita, Gita, dan Nuni. Yahhh memang semenjak Gita sudah balik ke Gorontalo, Immi yang alhamdulillah sudah bekerja.. Serta saya yang mendapatkan pekerjaan baru yang memang lebih baik untuk saat itu.. Tapi memang lebih sibuk dan memang beda lah pokoknya ­^_^ Kami sepertinya kehilangan waktu-waktu yang berharga untuk ngumpul, becanda, gila-gilaan (tolong... para pembaca tidak terlalu ekstrim menginterpretasikan kata ”gila-gilaan”, karena kami masih sangat waras...)

Hari ini adalah hari ulang tahun Ayu, tepatnya dua puluh lima mei dua ribu delapan.. Hahhh anak centil dan cerewet itu akhirnya berusia dua puluh dua tahun, memang dia dan Immi terhitung lebih muda dibanding kami... Tapi cuma beda satu tahun koq.. So please don’t think that we are too old.. pleaseeeee... Seperti biasa sudah hukum rimbanya, yang berulang tahun mentraktir kami-kami yang lagi bokek karena sudah mengeluarkan duit beli kado buat si bday girl.. Hehehe... Terlalu berlebihan kali yah.. Hari itu Ayu mengirimkan sms berupa undangan makan di Mall Panakkukang (MP).. Dalam kalimat smsnya seolah-olah MP itu adalah rumahnya.. Hahhh.. Dasar Ayu narsis.. Sebenarnya kami semua kayak gitu.. Huehehe.. Memang sih... Gita gak bisa ikut, yahhh... Mau diapa lagi, pilihan hidup serta takdir yang membuat dia harus kembali ke kota kelahirannya itu, sekedar info alhamdulillah dia juga sudah dapat kerja sejak bulan kemarin.. Wish you the best sister.. Missyou...

Akhirnya kami ketemuan di depan toilet di MP.. Yap... tempat itu seperti tempat favorit buat janjian, lebih gampang ketemunya, meskipun gak keren.. Ternyata saya bukan orang paling telat, masih ada si Nuni yang tidak bisa melepaskan predikatnya sebagai yang selalu ditunggu... Jadi ingat masa kuliah dulu, Nuni selalu membuat kita semua gemesss... Yah selain dia yang paling “berisi” dan chubby.. kami gemes karena keleletannya... Kadang udah last minute kuliah dimulai, dia masih ditunggu.. Okelah kalo cuma kuliah biasa, kami senang-senang juga sihh... Tapi gimana kalo mid atau bahkan final test.. Nah lhooo!! Mampuslah kita.. Dannn ini yang paling parah!! Kalau kita lagi lapeeerrrr banget, dan dia masih dengan segala kesibukannya, dan akhirnya buntut-buntutnya dia bilang “kayaknya saya gak makan siang sama kalian, masih banyak tugas”... Aduuhhhh Nuni sayang, cinta, manis, madu... Kenapa gak bilang daritadi?? Tapi untunglah dia jarang membatalkan, tapi menunggu bagi kami, itu pasti! Yahhh sudahlah.. we still love you, karena kami juga punya kelakuan-kelakuan aneh, saking anehnya.. kami menyebutnya aib.. Hahaha.. (sekali lagi para pembaca, tolong jangan se-ekstrim itu menilai kami)

Setelah Ayu berniat memborong satu buah baju yang diskon 50% ditambah 20% kalau membawa kupon yang tercantum di koran Kompas hari itu, hiks... sungguh tidak adil, dua bulan lalu saya membelinya dengan harga utuhhhh!!... Kami pun bertemu dengan si Nuni... Menuju MG Resto untuk makan siang yang menurutku sudah cukup telat, jam dua siang, padahal janji kumpulnya jam 12:00. Tapi saya mengerti, kami selalu begitu, dan bagiku itu sangat berharga dari mereka. Mereka selalu berusaha mendahulukan kewajiban shalatnya, saya belajar banyak dari mereka. Saya saja terlambat karena menunaikan kewajibanku itu, Nuni juga pasti telat karena itu, meskipun rumah kami berdua terhitung dekat dengan MP. Dan saya yakin Immi, Ayu, dan Lita datang lebih awal di MP karena mereka berpikir rumah mereka jauh, jadi shalatnya di mushollah yang tersedia. Kadang.. Meskipun kami melakukan hal-hal yang menyenangkan seharian, satu yang membuat saya selalu merasa terjaga, keyakinan mereka yang begitu besar, kecintaan mereka pada Sang Pencipta, dan janji melaksanakan kewajiban mereka kepada Allah. Yahhh.. kami kadang juga khilaf karena kesibukan yang seabrek-abrek, tapi bagi kami itu penyesalan juga.

“Mir pake tangan kanan” tegur Ayu yang memang menyapaku dengan nama Mira, melihat saya yang mencicipi es teler miliknya. Yahh saya kidal.. Dulu lebih parah, semuanya harus menggunakan tangan kiri. Hmmm... sekarang alhamdulillah untuk makan dan beberapa hal yang harus menggunakan tangan kanan, saya usahakan. Meskipun kadang saya masih kelupaan, apalagi kalau makan hanya dengan sendok minus garpu. “Saya masih ingin kita semua berkumpul dan menghabiskan waktu di akhirat nanti, tempat yang dijanjikan kepada kita yang berada di jalanNya” Yahhh... Seperti biasa, kami narsis lagi, tapi insya Allah,, Hahh.. cuma senyum, namun hatiku ini terenyuh mendengarkannya. Kami bercanda dan bercerita, membuat jadwal jalan-jalan baru lagi, karena kami sadar sudah tidak intens lagi bertemu.

Kami pun mengabadikan kebersamaan itu, biassa take a picture. Sekali lagi.. Emang narsis kali yah.. Hahahaha.. Jadinya sih delapan foto.. Tapi kami harus dikutip sampe 20 kali dan makan waktu setengah sampe satu jam, tentunya dengan hiruk pikuk yang kami ciptakan. Humm.. Seandainya si kecil itu ada, yap Gita memang bertubuh mungil.. Salah satu dosenku pun terheran-heran ada mahasiswa semungil Gita, “seharusnya kau ini masih duduk di SMP, bukannya di universitas” ujar Pak Darwis Ali. Kami pun gak bisa menahan riak tawa yang keluar begitu saja, yahh that’s real. Setelah mengitari seluruh pelosok mall, kami akhirnya menemani Nuni ke sebuah resto yang baru diresmikan, namanya D’cost restoran bintang lima, harga kaki lima, (bagi pembaca, ini memang baru di Makassar, harap dimaklumi. Hehehehe..) Nuni ingin membungkus makanan untuk dibawa pulang buat santap malam, yahh.. saat itu waktu sudah menunjukkan pukul 17:30.

Hmm.. Desainnya boleh juga, harganya juga.. boleh dehh.. Hehehe.. terhitung murah untuk tempat makan di sebuah mall, dan Nuni yang suka mencoba hal-hal yang baru, meskipun itu adalah makanan, tapi kami menganggap dia cukup berani, dan memang pilihannya selalu enak. Seporsi kerang dan Nasi goreng, membuat kami menemani Nuni menunggu sekitar 30 menit di kursi sofa yang memang disediakan buat orang-orang yang hanya membungkus. Kami sudah seperti pagar ayu di sebuah acara pernikahan, atau penyambut tamu di sebuah acara seminar.. Ini karena letak duduk kami dekat dengan pintu masuk. Berbagai lelucon-lelucon konyol kami ciptakan, yang membuat kami tertawa terbahak-bahak.. Upss.. Lucu sekaliii... Sampai supervisor yang tidak bersalah pun kami jadikan bahan tertawaan.. Maafkan kami yang begitu menikmati hari kami... Itu juga karena gaya jalannya yang aneh, dengan HT dan headset ditelinganya, layaknya pengawal istana atau bodyguard seorang Mariah Carey, plussssss dasinya yang bergambar Bugs Bunny.

Setelah semuanya selesai, saya putuskan untuk balik ke rumah lebih cepat karena pengen shalat magrib di rumah, sementara mereka pengen melakukannya di mushollah, mengingat jarak rumah yang tidak mengizinkan mereka untuk bisa tiba tepat waktu. Kami berpisah dengan senyuman sisa-sisa candaan seharian.. Hahhhh makasih buat hari ini, makasih buat semuanya, makasih untuk persahabatan yang semakin mengerti satu dengan yang lain..

“teman adalah anugerah yang membuat kita tertawa, menangis, menerima, memberi.. dan yang paling penting ialah membuat kita menghargai hidup... jika suatu hari, entah esok atau kapan pun kamu pergi dan melupakanku.. ketahuilah.. hadiah terindahku adalah.. mengenalmu....”

27 Mei 2008
07:58 wita

dan saat semua yang membahagiakan ini kutulis, hahhh.... papa berulah lagi.. please pa.. jangan suka mengatakan hal-hal yang menyakiti kami...

panggil dia "Abo"

"Vero.. titip salam juga buat anak MetroTv, Budi, Opik, dan Abo", begitulah sekenanya yang disampaikan ka Dayat, campers di studio. Dialog itu terjadi saat saya menjadi presenter acara Sambalu di salah satu stasiun tv lokal tempatku bekerja, setahun yang lalu sihh.. Tempat dimana saya banyak belajar dan berkarya, memulai sesuatu yang berharga dan menjadi bekalku sampai saat ini... Tapi tunggu dulu.. kita kembali ke dialog yang tadi, ada nama yang dicetak tebal dan miring, "Abo". Saat itu saya berpikir dan mencoba menggambarkan sosok seorang Abo, secara yah saya sudah cukup mengenal ka Opik dan ka Budi. Pendek, agak gendut, dan plontos, itu gambaranku tentang dia. Hahahaha... Soalnya nama "Abo" fisiknya lebih cocok seperti itu menurutku.

Dan akhirnya saya bertemu dia saat saya mengikuti test di MetroTv.. Astaga... Jauh dari yang saya bayangkan, saya tidak menyangka penampakannya seperti itu, kutilang, kurus-tinggi-langsing... Humm.. Hanya sebatas itu yang bisa saya jelaskan mengenai dia saat itu... Saya tidak menyangka kalau akhirnya saya berada di satu wadah berlogo merah dengan simbol lingkaran merah dan angka satu yang berdiri dengan kokohnya dalam lingkaran tersebut, tvOne.

Andi Ahmar... Begitu nama lengkapnya.. Eummm bagaimana skenarionya sampai dia dipanggil "Abo" yah? Saya agak khawatir dengan dia, guratan tegas di wajahnya menampakkan sesuatu yang berbeda. Apalagi begitu dia melihat saya yang kesannya seperti perempuan yang manja, dan saat itu memang intensitasku turun ke lapangan hanya sesekali. Tapi saya pikir justru dialah dan teman-teman di kantor yang akan mengajarku lebih banyak lagi tentang hidup sebagai seorang jurnalis.

Bagi saya, dia adalah sosok kontroversial.. Jawabannya selalu dengan nada tinggi dan kalimat-kalimat yang tegas.. Kadang menyinggung, kadang juga mengesalkan.. Maaf yeee untuk anak-anak kontributor.. Sebulan, dua bulan kerja sama dia cukup membuat jantungku berdegup gak karuan kalau ngomong sama dia, takut kalau-kalau salah ngomong.. Takut kalau dinilai gak mampu, apalagi kalau disandingkan dengan mereka yang sudah sering menghiasi layar dengan laporan mereka. Tulisannya di papan putih yang merupakan papan koordinasi, cukup sulit untuk dibaca. Kalau dilihat dari tulisannya, dia lebih cocok jadi dokter deh.. Tapi janganlah dokter anak, nanti pada nangis semua pasiennya.. Taulahhh ka Abo.. Meskipun setiap huruf itu kurang sempurna, tapi tulisan di papan itu selalu menjadi perhatian kami. Suaranya yang sekali lagi... bisa menyaingi suara HT dan suara TV dengan volume 20 ke atas, kadang saya pikir, yang mana mi ini mau didengar.. Dia yang tidak bisa diam kecuali tertidur pulas, lebih tepatnya tidur balas dendam karena sulitnya dia memejamkan mata di malam hari....

Ka....
Meski semua itu adalah kejujuran, saya mohon jangan tersinggung. Ibarat sebuah lagu, tulisan di atas adalah intro. Saya hanya ingin bilang.. Dengan dirimu yang kugambarkan lewat kata-kataku yang sederhana, kau adalah sesuatu yang kami banggakan. Kau adalah satu dari empat panglima perang di benteng ini. Kau adalah dirimu, dan tak tergantikan... Kau adalah... Ahh.. Kau adalah bagian dari kami...

Saya adalah adikmu??? Makasih ka... Maka ijinkanlah saya menyampaikan apa yang saya inginkan.. Janganlah meninggalkan semua ini begitu saja, yakinkan dirimu ka.. Pikirkan yang terbaik bagimu.. Dan saat semua ini layak untuk kau pertaruhkan... Saat semua ini akan tetap menjadi yang tidak terlupakan... Ijinkan lagi saya menyampaikan sesuatu.. Raihlah apa yang terbaik buatmu.. Apapun itu, selagi itu baik buatmu... Selagi itu aman dan nyaman buatmu, karena semua ini bukan hanya karya, tapi juga rasa..

Masih ada satu lagi ka... Maaf saya menambah bebanmu, tapi menurutku ini adalah jalan keselamatan buatmu... Bersujudlah kepada Sang Penciptamu, agar jalan gelap di depan menjadi terang dengan cahaya di ujung jalan itu (sedikit kutipan dari Budi Zulkifli)... Agar semuanya jadi lebih jelas untukmu... Kami akan selalu membantu dengan serangkaian doa yang kami lafazkan untukmu.. Bagi kami.. Jejak yang kau torehkan di hati kami, akan selalu menjadi kenangan buat kami, saat kau tetap dekat dengan kami, ataupun sebaliknya... Hahhh.. Heii penjejak.. seandainya semuanya bisa ditawar....


22 Mei 2008
01:09 wita

hehehe... namanya juga usaha ka...

tujuh belas mei yang menyenangkan

Langkahku terayun dengan semangat begitu memasuki teras kantor... Terlihat wajah si Itol, Aja, pa Haking yang cukup terperanjat melihatku. "Yahhh.. koq sepi", pikirku.. Tapi saya cukup antusias memasuki ruang tengah kantor dengan membawa dua kantong terang bulan, teman-teman lalu menyambutku dengan gembira.. Biassalah kalo makanan jieeee, palagi gratis.. hehehe.. Sowry friend, but it's real, and that's why I like you.. Ternyata mereka sedang menyaksikan pertandingan final uber cup, well.. saya agak malas menyaksikannya mengingat pertandingan final thomas cup yang gagal.. Ah... benar kata ka Budi, apalagi yang bisa dibanggakan, masih adakah yang tersisa.. Tapi saya masih juga merasa bangga dengan warna merah putih itu..


Kuperbaiki karpet biru yang terbiasa di parkir di samping meja presenter, mencoba mencari PW alias posisi wenak, dan aku pun duduk. Itol, Aja, pak Haking, dan ka Takbir yang keluar dari peraduannya di ruang komputer, bersorak menikmati terang bulan hangat itu. Kelihatannya enak, tapi saya sudah keburu kenyang, mama dan papa mengajak saya dan adik-adik makan di tempat favorit kami, seafood, hmm... nyummy.. Ruang tengah jadi terlihat lebih rame, teriakan teman-teman seolah-olah menggambarkan suasana lapangan bulu tangkis. Hahahaha.. Saya seperti lagi nonton lawakan, kerjaku cuma ketawa dan ketawa saja. Mereka terus saja nyeletuk hal-hal yang lucu dan menurutku aneh, seperti ka Takbir yang terus saja bersorak untuk negara China karena merasa bahwa dia keturunan tiong hoa, hallllaaaaahhh.. Belum lagi pak Haking, Aja , dan itol yang mebuat dialog pendek yang menurutku lucu sekali, dan ka Budi yang melengkapi suasana malam itu dengan humor-humornya yang kadang idealis, kadang juga konyol...


Malam minggu kali ini, berbeda dari biasanya. Kemarin-kemarin saya menghabiskan waktu dengan keluarga kemudian mendekam di dalam kamar, malam ini lain. Ini karena ajakan Nanie dan anak magang yang lain.. "Ka... sekali-sekali nginapki di kantor.. Supaya bisa menghabiskan malam sama-sama, apalagi kami udah mau diusir nih dari kantor", yahh saya ngerti.. jadwal magang mereka sudah hampir selesai. Meskipun gak nginap, tapi saya coba untuk menghargai permintaan pemirsa.. Hehehe.. Saya juga penasaran dengan suasana malam di lantai atas kantor yang beratapkan langit. Dengan semangatnya saya naik ke atas. Ada Indi, Nani, Mimin yang sedang ngobrol dan bercanda. Sekali lagi mencari PW untuk duduk, dan aku sadar ada si Madi yang sedang duduk di atas genteng sambil menyanyi, dan saya yakin... dia tau kalau suaranya itu fals!!.. Hahahaha.. tapi saya ngerti, pengen meluapkan sesuatu lewat lagu kali yah...


T
iba-tiba ada Anchu, menyusul ka Budi, dan suasana jadi begitu ramai. Hahhhh candaan kalian itu bagaikan tiupan angin bagiku yang kegerahan dengan penat yang membungkusku. Tawa ini terus menghiasi wajahku dan teman-teman meskipun hanya diterangi cahaya rembulan dan gemerlap bintang.. Nani dan Indi pun turun, mereka pengen cari makan, wahhh asyiknya hunting makanan malam-malam, "hati-hati yah de", yahh mereka sudah saya anggap sebagai adik sendiri.


Seperti sebuah pertunjukkan lawak srimulat yang sedang berganti pemain, tiba-tiba ka Abo, menyusul Itol, dan suasana itu tidak hambar ataupun stagnan, justru semakin menyenangkan. Apa yahhhh... Yap!!! Penyajian mereka... Mereka mampu menyajikannya begitu special buat saya, saya hanya tertawa, dan sedih yang membelenggu, hilang seketika... Ahhh.. Kalian ini.. Apa sih kalian itu... pakaian yang kadang lusuh dengan menggunakan metode side A - side B, wajah yang dekil karena terkena terik matahari dan debu, keringat yang menempel di tubuh kalian, sendal jepit yang cocok banget dengan tampilan kalian, yaaa kadang juga sepatu sih, tapi tidak menambah 1% pun ketampanan kalian... Apa sih kalian yang hanya sibuk dengan handycam yang sudah seperti pacar kalian... Hahahaha...


Kalian adalah segalanya yang melunturkan rasa sedih ini.. Segalanya yang menghapus kegalauan ini walau sesaat.. Segalanya yang berjuang, bertarung, dan menang, meski kadang juga harus menelan pahit kekalahan. Hmmm... Teruslah seperti ini... Teruslah menjadi pemeran utama dalam rumah putih ini.. Teruslah berkarya.. Teruslah menanam benih persahabatan itu... Jangan pernah letih menghiburku.. Karena saya tidak pernah letih mendengarkan kalian, sekali lagi.. di dalam rumah putih ini...


21 Mei 2008
00:21 wita

malam minggu yang menyenangkan.. makasih yahhhh...