di balik bangunan tua

Dua hari ini cukup berat buatku… Semua yang di kepalaku rasanya ingin kukeluarkan dengan satu teriakan di alam bebas, namun seperti biasa saya hanya mampu mengeluarkannya lewat isakan tangis yang semakin lama semakin mirip rengekan gadis kecil yang kehilangan boneka beruang putihnya..

Terlalu privasi untuk kubagi kepada kalian… Maaf.. Pagi ini sisa kesedihanku itu seperti diuji dengan peristiwa yang nyaris sama.. Ufff… Seandainya hujan yang menyapaku hari ini bisa menjadi temanku berbagi, rasanya ingin kuadukan semua keluh ini.. Ingin kubiarkan air mataku mengalir sederas nya yang turun membasahi kotaku pagi ini…

Saya hanya mampu menatap rintikan hujan dari balik jendela angkot dan menikmati hawanya lewat tiupan angin, berharap dapat menenangkan pikiranku yang kalut.. Tangisan itu sedikit lagi akan tumpah namun berusaha kutahan hingga tenggorokan ini tercekat, perih…

Bagi kalian yang tau kisah beratku dua hari terakhir ini, mungkin akan tergelak membaca tulisanku.. Mungkin kalian menganggap kisah ini hanya isapan jempol yang kupaparkan demi menarik perhatian.. Ataukah.. Hanya peristiwa ringan yang memang tidak bisa dihadapi gadis cengeng sepertiku…

Terserah..!! Saya tidak pernah peduli dengan apa yang kalian pikirkan tentangku.. Saya hanya peduli pada mereka yang ingin membagi bahunya untukku bersandar.. mereka yang ingin menyempatkan waktu sejenak untuk mendengarkanku dan tidak tertawa setelahnya.. Asas manfaat?? Tentu tidak! Kalian bisa belajar sesuatu dari apa yang terjadi padaku…

Sesampaiku di teras kantor, perdebatan dengan adikku, kembali terjadi lewat telepon selulerku.. Uggghhhh.. seandainya kuikuti emosiku yang kian menyulut, rasanya ingin kubanting benda itu agar percakapan terhenti.. Namun saya hanya berani mengakhiri pembicaraan secara sepihak.. Saya tak sanggup! Hehehe.. *mungkin kamu akan menuduhku mendramatisir keadaan lewat tulisan ini*

Saya mencoba mencari bala bantuan lewat sahabatku dan dia.. Tapi entahlah.. Sepertinya memang kalian susah merasakan apa yang saya rasakan.. Wajar koq… Tidak ada yang bisa mengerti orang yang berpikir dengan emosi meluap-luap sepertiku.. Setelah kuhabiskan beberapa menit di teras dengan mata sembab, saya putuskan mencari tempat aman di kamar kantor..

Kududuk di kursi kecil yang terletak di depan meja riasku.. Sambil melepaskan desahan panjang, saya menatap lekat cermin, dan tampak wajah lusuh dan tidak bersemangat itu… Dari sampingku, kurasakan udara dingin yang terus meniup wajahku seolah mencoba mencuri perhatianku, dan saya saya pun menoleh… Ternyata jendela ruangan ini terbuka lebar..

Seperti biasa, bangunan tua yang “telanjang” itu menarik perhatianku… Bentuknya memang nyata sebuah bangunan bertingkat dua, susunan batu bata rapi tanpa dibalut semen dan cat tembok, terlihat sangat jelas.. Canopy berbentuk setengah lingkaran yang mungkin dulunya dicat putih mulus, kini tertutup dengan jamur serta debu yang menempel sehingga terlihat usang dan kotor, begitupun pilar-pilarnya..

Sejumlah dedaunan kering kecoklatan seolah “menemani” nya sambil bergelantungan di sekitarnya… Sejenak saya berpikir.. Apakah rencana pemilik bangunan ini? Seandainya bangunan itu direnovasi, pasti akan terlihat megah, apik, dan indah, karena terhitung bangunan yang cukup besar… Tapi sama sekali tak ada jawaban yang kutemukan..

Bangunan itu tidak menarik sama sekali… Apalagi disekitarnya hanya barisan pohon kelapa dan beberapa jenis pohon lain yang tidak kuketahui pasti jenisnya.. Daun-daun pohon itu lebat berwarna hijau dan kekuningan.. Sekali lagi tidak menarik, dan begitulah pemandangan yang selalu kudapati dibalik jendela kamar ini, hampir setiap hari ketika akan menunaikan ibadahku serta melakukan rutinitas merias wajah..

Berkali-kali saya yakinkan diriku bahwa pemandangan itu tidak sedap.. Tidak artistic dan tidak ada nilai estetika sedikitpun.. *ceilehhh bahasanya, sudah kayak pakar seni dan desain interior-eksterior* Namun berkali-kali pula saya mengagumi pemandangan itu dalam hati kecilku, dan hingga saat ini nyaris menyita seluruh rasa kagumku…

Apalagi siang ini.. Dimana dinginnya angin menusuk hingga ke kulit tubuhku, dan mengalahkan terik matahari yang sering menemani rintikan hujan.. Pemandangan itu semakin indah.. Akhhhh.. Seketika semua rasa benci ini terabaikan, rasa sedih ini tak kuindahkan lagi.. Kucoba sampaikan pandangan mataku ini ke orang-orang yang kusayangi, berharap mereka tau, ada sesuatu yang indah dibalik semua keburukan itu..

Yappp.. Sesuatu yang indah dibalik keburukan itu.. Dannn saya berpikir.. Mungkin disitulah Pemilik Kehidupan ini menyimpan nikmatnya harta yang tak dapat dibeli dengan uang dari jenis mata uang manapun.. Keindahan yang dia simpan rapi, yang kerap manusia cari dengan menggali alam ini, dengan menggunakan teknologi canggih demi menciptakannya, dengan mengubek-ubek semua toko dan pusat perbelanjaan..

Ini hanya satu dari sekian yang tidak pernah kusadari… Bahwa Dia menegurku dengan cara yang benar-benar indah hari ini, meski risau ini ada, namun terlalu naif apabila saya tidak mengakui keindahan di depan mataku ini.. Terlalu naif karena selalu bercerita tentang kesedihan, padahal Dia tidak pernah jauh dariku.. Meski dua belas warna dan tujuh purnama kulewati… Meski ada yang telah berubah…

14 Juli 2009
23:26 wita


No comments: